Rabu, 17 April 2013

Tugas Audit II Resume Pemantauan Korupsi : Bukti dari Percobaan Lapangan di Indonesia



Penulis : Benjamin A. Olken
Harvard University and National Bureau of Economic Research

Korupsi dapat menjadi penyumbang utama terhadap rendahnya pertumbuhan di banyak negara berkembang. Salah satu pendekatan untuk mengurangi korupsi, setidaknya ada perpaduan yang tepat dari monitoring (pemantauan) dan punishment (hukuman) dapat mengendalikna korupsi. Namun dalam praktiknya, dari setiap individu tersebutlah peranan penting pemantauan dan penegakan tentang korupsi tersebut. Dari hal tersebut mampu membuat peningkatan pemantauan pejabat tingkat rendah yang dipantau oleh pejabat tingkat tinggi yang disebut top-down monitoring. Adapun pendekatan alternatif yang beberapa tahun belakangan ini sangat terkenal yaitu dengan peningkatan partisipasi grassroots, dimana melibatkan anggota masyarakat dalam pemantauan tingkat kokal (daerah).
Dalam makalah tersebut peneliti melakukan pengujian apakah pemantauan grassroots dapat efektif dalam mengurangi korupsi yang ada. Pengujian ini dilakukan secara acak di 608 desa di Indonesia. Pada awal penelitian, setiap desa akan mulai membangun jalan desa sebagai bagian dari proyek infrastruktur nasional tingkat desa. Dalam pengujian pemantauan dampak eksternal, secara acak beberapa desa untuk diberitahu, setelah dana diberikan tapi sebelum pembangunan dimulai, bahwa proyek mereka selanjutnya akan diaudit oleh lembaga audit yang dilakukan pemerintah pusat. Dimana hasil audit tersebut dibaca publik ke rapat desa terbuka oleh auditor sehingga dapat mengakibatkan sanksi sosial yang cukup besar.
Dalam menyelidiki dampak dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pemantauan, peneliti merancang dua percobaan yang berbeda yang berusaha untuk meningkatkan pengawasan proyek grassroots. Secara khusus, percobaan berusaha untuk meningkatkan partisipasi pada "pertemuan akuntabilitas," pertemuan tingkat desa di mana para pejabat proyek menjelaskan bagaimana mereka menghabiskan dana proyek. Kemudian percobaan kedua, bentuk komentar anonim didistribusikan bersama dengan undangan, memberikan kesempatan warga untuk menyampaikan informasi tentang proyek tanpa takut akan pembalasan. Ini formulir komentar kemudian dikumpulkan dalam kotak drop-disegel sebelum pertemuan akuntabilitas, dan hasilnya
diringkas dalam pertemuan.
Makalah tersebut didasarkan pada literatur kecil namun meneliti keadaan korupsi dengan membandingkan dua ukuran kuantitas yang sama, satu "sebelum" dan satu "setelah" korupsi.
Kesimpulan yang penulis kemukakan dari penelitiannya tersebut yaitu meskipun auditor menemukan pelanggaran dari beberapa jenis lain atau 90 persen dari desa-desa yang mereka kunjungi, sebagian besar
pelanggaran ini adalah prosedural di alam, dan jika ada sangat sedikit, kasus di mana auditor memiliki bukti konkret yang cukup untuk dapat mengadili pelanggaran korupsi tersebut.
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengundang lebih banyak warga desa untuk pertemuan monitoring pengeluaran hanya dikurangi hanya tenaga kerja, dimana tidak berdampak pada bahan namun berdampak sedikit pada keseluruhan.
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengeluarkan bentuk komentar anonim untuk mengurangi pengeluaran penduduk desa jika bentuk komentar disebarkan melalui sekolah-sekolah di desa, benar-benar melewati desa pejabat yang mungkin telah terlibat dalam proyek ini. Hal ini menunjukkan bahwa harus diperhatikan dalam merancang program pemantauan grassroots untuk memastikan bahwa mereka tidak ditangkap daerah elit.
  • Memahami pentingnya implikasi jangka panajang anti korupsi, penggunaan auditor dengan rotasi perputaran sesering mungkin akan meminimalkan kegiatan korupsi karena dapat menegakkan punishment di desa yang terdeteksi adanya korupsi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar